The real evil is you
Mungkin itu kata-kata yang pas buat menggambarkan gue.
Pertanyaan seperti apakah baik dan buruk itu telah ditentukan selalu
terngiang-ngiang di kepala gue. Seperti tokoh-tokoh didalam film the green
mile, oke itu emang cerita fiksi tapi seperti billy the kid misalnya si tokoh
yang bener-bener kacau tingkahnya, menyisahkan pertanyaan buat gue, apakah
misalnya rehabilitas atau mungkin kata anak-anak muda jaman sekarang kalau mau
berubah jadi lebih “baik” cari-cari pengalaman, apakah belajar dari pengalaman
berpengaruh buat tokoh itu? gue rasa tidak. Buat yang belum nonton filmnya,
nonton aja, recommended movie!
Ini sedikit pandangan sinis gue, seperti halnya tokoh billy
the kid yang menegaskan bahwa kalau emang lo tumbuh jadi orang yang jahat ya
sampe kapan juga lo bakal jahat, pasti bakalan ada kok orang yang kayak gitu. Atau
kisah lain misalnya disebuah kelompok yang isinya orang-orang baik, yang saling
menjaga perdamaian antara orang satu dengan yang lainnya dikelompoknya,
tiba-tiba ada satu orang dikelompok mereka yang berkelakuan aneh, yang justru
bisa dibilang bertolak belakang dengan perilaku kelompok tersebut pada umumnya,
bukankah tindakan seseorang sudah cukup mencerminkan dari kelompok mana dia
berasal, jika dia tumbuh justru berbeda dengan orang-orang dikelompoknya,
pertanyaan adalah? Baik dan buruk itu terberikan atau dibentuk?
Memang selalu menarik buat gue mengetahui bagaimana di dunia
ini ada orang yang dengan sengaja menyakiti, menyiksa, atau bahkan membunuh
orang lain, dan hal tersebut tidak sedikitpun membuat mereka merasa bersalah,
mereka justru menikmati apa yang mereka lakukan tanpa menghiraukan bahwa apakah
tindakan mereka dapat menyebabkan dia masuk ke dalam kategori baik dan buruk,
bagi mereka tindakan yang membawa “pleasure” untuk mereka adalah tindakan yang
harus mereka lakukan. Buat gue yang sangat memperdulikan misalnya bagaimana
orang lain memandang gue, gue selalu bersikap baik didepan orang yang tidak gue
kenal, atau didepan orang yang lebih tua contohnya saat gue bertamu kerumah temen
gue, gue akan dengan ramah menjawab pertanyaan orangtua dari temen gue kalau
ditanya sesuatu, tindakan itu gue lakukan tidak lebih karena gue ingin gue
terlihat baik didepan orang lain, gue ingin agar orang tidak mempersoalkan
ajaran-ajaran tata-krama yang diajarkan keluarga atau orang tua gue, gue ingin
orang lain melihat gue normal seperti orang kebanyakan. Bayangkan kalau gue
bertamu ke salah satu temen gue, dan orang tua dia bertanya tentang gue tinggal
dimana dan semacamnya, lalu gue jawab dengan nada kasar atau membentak mereka
pasti tidak akan mengizinkan anak mereka untuk berteman dengan gue, karena
menurut mereka gue bukan orang baik. Tapi bagaimana kalau ternyata gue ini anak
yang sopan didepan orang lain tapi ternyata gue punya pikiran yang jahat untuk
mencelakai misalnya atau menjerumuskan melakukan tindakan-tindakan yang
ekstrem, nahloh, gimana dong itu? apa kesopanan
yang dianggap baik itu hilang dan justru
dia menjadi buruk? Ya karena itu pada akhirnya muncul jargon yang kita
tau dengan “dont judge the book from its cover” mungkin gue bisa mengelompokan
jargon ini kedalam mereka yang percaya bahwa sifat baik atau buruk pada diri
seseorang itu bawaan, kenapa? Karena mereka tidak perduli dengan segala macam
tampilan luarnya kalau memang didalam lo itu kualitas lo oke ya lo oke aja,
kalau hati lo itu lembut dan baik, ya sampe kapan juga kelembutan itu akan ada
didalam hati lo dan begitu pula sebaliknya. Ini bagian yang pasti sangat sulit
yang dijangkau oleh setiap orang, kita tidak benar saling tahu satu sama lain,
kita memang tidak bisa mencurigai dengan berlebihan seperti apa orang lain akan
bertindak, tetapi kita juga tidak dapat memprediksi tindakan apa yang akan
dilakukan orang lain nanti. Bahkan gue yang menulis ini dari awal belum memutuskan
untuk lebih memilih kepada percaya bahwa kebaikan itu diberikan atau dibentuk. Mungkin akan gue lanjutin lagi nanti, sebentar lagi gue mau publish puisi, Terimakasih..
Komentar
Posting Komentar